Artikel

Home/Artikel

“Surat perintah pembunuhan: antara Hilter dan harto”

2018-07-06T07:16:32+00:00 Juli 6th, 2018|Opini|

Oleh: Joss Wibisono Artikel terbaru Jess Melvin dalam situs Indonesia at Melbourne menurunkan salah satu intisari terpenting bukunja The Army and the Indonesian Genocide: Mechanics of Mass Murder (Tentara dan genosida Indonesia: mekanisme pembunuhan massal). Berikut dua alinea jang merupakan djantung artikel itu: It can now be revealed that Soeharto was much more active in consolidating his position [...]

Komentar Dinonaktifkan pada “Surat perintah pembunuhan: antara Hilter dan harto”

Sekilas tentang Pembantaian Massal Indonesia tahun 1965 lewat kacamata sensus: migrasi dan pengungsi di Jawa Timur

2018-06-05T14:09:08+00:00 Mei 30th, 2018|Opini, Tulisan Khas|

Oleh Siddharth Chandra | Diterjemahkan oleh Febriana Firdaus Kekerasan anti-Komunis yang meluas yang diikuti dengan penculikan dan pembunuhan jenderal-jenderal senior Indonesia pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965, mungkin merupakan periode paling traumatis dalam sejarah Indonesia. Dirancang dan dieksekusi oleh Tentara Nasional Indonesia dan sekutu politiknya, kekerasan mengakibatkan hilangnya nyawa sekitar 500.000 jiwa(1). Sebagian besar penelitian [...]

Komentar Dinonaktifkan pada Sekilas tentang Pembantaian Massal Indonesia tahun 1965 lewat kacamata sensus: migrasi dan pengungsi di Jawa Timur

Membicarakan 1965: Kita Sudah Pernah Cukup Maju

2018-04-26T21:35:19+00:00 April 26th, 2018|Opini|

Suhadi Cholil* | September 19, 2017 Pada hari Sabtu, 16 September 2017, kegiatan seminar yang direncanakan akan mendiskusikan sejarah 1965 dibubarkan Polda Metro Jaya. Jalan menuju kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, tempat kegiatan itu, diblokade aparat sehingga peserta seminar yang sebagiannya dari generasi tua tidak bisa masuk. Hari berikutnya, para aktivis memprotes pelarangan seminar di LBH [...]

Komentar Dinonaktifkan pada Membicarakan 1965: Kita Sudah Pernah Cukup Maju

Cendrawasih dari Priangan

2018-04-26T21:15:52+00:00 April 26th, 2018|Opini|

26 April, 2018 - 00:02 | Hawe Setiawan* INGATAN kolektif, betapapun retaknya, tersimpan di halaman koran. Laporan Gadis Rasid, "Boekencensuur in Indonesië Blijft Aanhouden", dalam NRC Handelsblad, 28 September 1976, mencatat bahwa 99 judul buku karya para penulis Indonesia dilarang beredar oleh pemerintah Indonesia waktu itu. Kejaksaan Orde Suharto mengaitkan buku-buku itu dengan Partai Komunis Indonesia dan organisasi-organisasi [...]

Komentar Dinonaktifkan pada Cendrawasih dari Priangan

Persekusi dan Opresi Demokrasi

2018-04-03T19:34:46+00:00 April 3rd, 2018|Opini|

Oleh: Rasyid Ridha Saragih Runtuhnya pemerintah otoriter Orde Baru menjadi berkah bagi kondisi kebebasan sipil. Namun dalam perjalanannya, kondisi tersebut kini sedang dipertaruhkan. Bila dulu banyak dari tindakan opresi dilakukan secara vertikal oleh Negara terhadap masyarakat, opresi atas kebebasan sipil kini banyak dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat tertentu terhadap kelompok masyarakat lainnya. Opresi tersebut salah satunya [...]

Komentar Dinonaktifkan pada Persekusi dan Opresi Demokrasi

Genosida Intelektual, UGM dalam Bayang Tragedi ’65

2018-04-01T15:34:17+00:00 Maret 30th, 2018|Opini|

28 Maret 2018 Pada rentang waktu 1965-1966, terjadi pembantaian massal di seluruh wilayah Indonesia terhadap para terduga komunis. Semua orang yang berafiliasi ataupun diduga memiliki hubungan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) ditangkap dan dibunuh. Mereka yang tertangkap namun tidak dibunuh harus menjalani tahanan, kerja paksa, dan diskriminasi untuk waktu yang lama, bahkan hingga saat ini. [...]

Komentar Dinonaktifkan pada Genosida Intelektual, UGM dalam Bayang Tragedi ’65

Hilang dan Mati Pasca 65

2017-11-18T11:12:59+00:00 November 15th, 2017|Berita, Opini|

15 November 2017 | Gde Putra | Sumber: Indoprogress.Com Meyakininya mati adalah cara untuk bertahan hidup bagi keluarga korban, agar bisa menghindari pertanyaan-pertanyaan mengenai nasib anggota keluarganya yang hilang. Mereka tak ingin pertanyaan-pertanyaan itu memberatkan langkah mereka saat melewati jalan terjal pasca pembantaian massal 65. Mereka harus berjuang dari nol, dipersulit oleh pemerintah, serta dililit stigma PKI. [...]

Komentar Dinonaktifkan pada Hilang dan Mati Pasca 65

“Negara Hadir untuk Jujur pada Sejarah”

2017-10-19T13:22:10+00:00 Oktober 17th, 2017|Wawancara|

Reporter: Alexander Haryanto | 17 Mei, 2016 "Negara hadir untuk jujur melihat kembali sejarah bangsa sendiri" Soal jumlah korban 65, "Saya percaya pernyataan komandan tertinggi" "Kalau kita mengakui kesalahan di masa lalu, kita tidak menjadi lemah, justru menjadi kuat" Sebuah Simposium yang bersejarah digelar di Jakarta pada April lalu. Pelaksanaannya sangat penting karena menjadi penanda putusnya [...]

Komentar Dinonaktifkan pada “Negara Hadir untuk Jujur pada Sejarah”

Menelisik Khazanah Arsip Peristiwa 65

2017-10-16T10:44:50+00:00 Oktober 13th, 2017|Opini|

13 October 2017 | Aan Ratmanto REZIM yang tengah berkuasa—di mana pun itu berada—pasti akan selalu melakukan ‘kontrol arsip’ untuk kepentingan politiknya. Ketika rezim itu jatuh—dan digantikan rezim baru—maka runtuhlah pula bangunan itu. Menurut Bambang Purwanto (2006: 52), kejatuhan sebuah rezim akan memunculkan berbagai nilai baru yang menyertainya, dan dengan segera diikuti oleh kebutuhan untuk memiliki [...]

Komentar Dinonaktifkan pada Menelisik Khazanah Arsip Peristiwa 65