Suara dari Masa Pancaroba

Home/Artikel/Suara dari Masa Pancaroba

Suara dari Masa Pancaroba

Selasa, 03 Okt 2017 | by Anne-Ruth Wertheim

Kisah Wim dan Hetty Wertheim dengan negeri keduanya, Indonesia. Wim, Indonesianis, yang dikenal sebagai salah satu tokoh pertama yang mempertanyakan G30S versi Orde Baru.

Nama W.F. Wertheim atau Wim Wertheim terkenal sebagai salah satu tokoh pertama yang mempertanyakan G30S versi Soeharto Orde Baru. Selain Cornell Paper (karya para ilmuwan universitas Amerika) yang melihat G30S sebagai konflik internal Angkatan Darat; Wim Wertheim, gurubesar sosiologi Universiteit van Amsterdam, menyoroti hubungan erat Soeharto dengan para pelaku pembunuhan para jenderal itu. Karena pendapatnya ini, Wertheim dicekal, dia tidak pernah lagi berkunjung ke Indonesia. Padahal boleh dikatakan ini negeri keduanya. Dalam tulisan berikut Anne-Ruth Wertheim, putri kedua pasangan suami istri Wim dan Hetty Wertheim, bertutur tentang bagaimana kedua orang tuanya bisa punya hubungan begitu erat dengan Indonesia. Dari bagaimana Hetty mendengar suara ribut-ribut pada 17 Agustus 1945 sampai bagaimana Wim berunding dengan Sjahrir.

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 antara lain berlangsung dengan pembacaan beberapa kalimat yang sebelumnya diketik pada secarik kertas. Dengan begitu sekelompok warga kepulauan Nusantara yang gemar memberontak menyatakan negeri mereka merdeka dari penjajahan Belanda yang berlangsung selama berabad-abad. Sebagai jawaban pemerintah Belanda berbuat apa saja, bahkan sampai yang paling absurd sekalipun, untuk menyangkal makna peristiwa ini, begitu pula dengan melancarkan sampai dua kali perang kolonial.

Perang kolonial terakhir disudahi pada tanggal 27 Desember 1949 dengan penyerahan kedaulatan kepada Indonesia. Bahkan setelah itu selama puluhan tahun Belanda makin memperkeras penyangkalannya. Tapi tanda-tandanya sudah terlihat pada bulan-bulan awal menyusul Proklamasi. Pada saat yang kacau itu, keluarga kami berada dekat dengan peristiwanya dan ayah kami berupaya mati-matian untuk mengarahkan perkembangan menuju kebaikan.

 

Berakhirnya kehidupan kolonial yang nyaman

Belum lama berselang, adik saya, Hugo Wertheim, melawat ke negeri kelahiran kami: Indonesia. Itu adalah untuk pertama kalinya dia kembali setelah keluarga kami berangkat ke Belanda pada 1946 — Marijke, kakak kami, dan saya sudah pernah kembali sebelum itu, bersama anak-anak dan cucu-cucu. Kami bertiga dilahirkan di sana semua: Marijke pada 1933, saya pada 1934 dan Hugo pada 1936. Waktu itu hidup kolonial kami begitu nyaman, sampai pada 1942 ketika pasukan Dai Nippon menyerbu dan menjungkir balik semuanya. Tahun-tahun sesudah itu kami habiskan dalam apa yang kami cibir sebagai “Jappenkampen” yaitu kamp interniran Jepang — kami dan ibu dalam kamp wanita dan ayah dalam kamp pria. Selama tiga tahun itu kami tidak tahu ayah di mana dan apakah dia masih hidup.

Kunjungan nostalgia yang sebelum itu saya dan kakak saya lakukan ke Indonesia, membawa kami ke Rumah Sakit Tjikini, tempat kami dilahirkan, sekolah dasar kami, rumah-rumah yang pernah kami huni, tak ketinggalan dua dari tiga kamp interniran Jepang yang sempat kami diami. Kamp terakhir, ADEK, di Jakarta, kami lewati saja, karena tahu bahwa kamp itu sudah tidak ada lagi. Pada 1989 terjadi kebakaran di sana dan sekarang diubah menjadi wilayah hunian. Hugo justru memutuskan untuk berkunjung ke sana karena alasan khusus. Dia membandingkan peta Batavia zaman dulu dengan peta Jakarta sekarang, sehingga bisa melihat bahwa tidak jauh dari kamp ADEK itu selain Jalan Proklamasi kini juga terdapat Taman Proklamasi.

Setelah Hindia Belanda bertekuk lutut pada 8 Maret 1942, pasukan Jepang menduduki kepulauan Nusantara dan mengambil langkah-langkah supaya tidak memperoleh halangan dari mereka yang sebelum itu berkuasa. Hampir semua orang Belanda dijebloskan ke dalam ratusan kamp yang tersebar di seantero Nusantara. Dalam kelaparan dan kekurangan kami dijaga oleh orang Indonesia atas perintah Jepang yang siang malam terus mengawasi kami dari menara jaga. Bukannya kami tidak punya hasrat untuk melarikan diri, tetapi dengan kulit putih, kami akan langsung tampak di antara orang Indonesia, orang Indo yang berdarah campur, orang Tionghoa dan Jepang. Dari rakyat kami tidak perlu berharap mereka berani mengambil banyak resiko bagi bekas penguasa mereka.

 

Serasa sesuatu bergantung di udara

Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah kalah kepada sekutu. Kamp ADEK, tempat kami disekap sebelum akhirnya bebas, terletak di Batavia tenggara: kumpulan beberapa bangunan dikelilingi oleh dua pagar tinggi. Ini dibangun untuk kuli dan buruh yang dipekerjakan di perkebunan tembakau Deli, Sumatra. (ADEK merupakan singkatan Algemeen Delisch Emigratie-Kantoor atau kantor umum emigrasi Deli). Tentang bagaimana dan berapa jumlah orang yang diinternir di situ, kami tidak perlu berilusi. Bagaimana kami bermukim di situ selalu kami ingat. Di dalam kamp terdapat 2500 perempuan dan anak-anak, sekitar seratus orang dalam satu bangsal. Setiap orang memperoleh tempat tidur kayu tanpa kasur yang berderet-deret sepanjang dinding, lebar setiap tempat tidur mencapai 50 centimeter. Bulan-bulan terakhir terasa berat. Pada tanggal 31 Juli 1945, kami harus berjemur di bawah terik matahari selama tujuh jam, karena para penjaga Indonesia melarikan diri mengenakan pakaian kami. Orang-orang Jepang memukuli mereka sampai berdarah-darah di depan mata kami, supaya mereka mengaku dengan siapa mereka bertukar pakaian untuk makanan — akhirnya pengakuan itu keluar juga. Seandainya saja kami tahu bahwa pembebasan sudah begitu dekat.

Pada tanggal 15 Agustus 1945, dalam buku hariannya, ibu menulis:

Malam hari tak bisa tidur. Sekarang sadar betapa kelaparan bisa membuat orang jadi gila. Tengah malam Saar mendatangi kolong kami dan berkata, “Damai telah tiba!” Masak? Jangan begitu, omongan seperti ini sudah kami kenal.

17 Agustus 1945
Mendadak sontak semuanya dalam porsi dobel. Sulit dipercaya! Sesuatu terasa bergantung di udara. Malam hari begitu gaduh di luar kamp. Seperti ada pasar malam. Dan selalu terdengar suara keras melrialui pengeras suara. Ada apakah gerangan? “O, ini pesta kaum inlanders,” kata salah seorang penghuni kamp. Tidak, menurut kami pesta mereka biasanya justru selalu tenang sekali. Aku ingin tahu apa yang diucapkan di sana. Malam hari kudatangi gedek (pagar tinggi) dan berdiri lama untuk mendengar, ternyata suara itu terlalu jauh, tak bisa kupahami. Tapi bisa kupastikan di luar sana tengah berlangsung sesuatu yang luar biasa.

Apa yang ditulis oleh ibu di atas sungguh menarik. Kami tidak pernah menemukan bukti bahwa perempuan-perempuan lain yang disekap di ADEK juga mendengar suara-suara itu. Ibu kami paham, berbicara dan bisa menulis dalam bahasa Indonesia dengan sangat baik, tidak demikian halnya dengan orang Belanda lain yang tinggal di Hindia. Sebagian besar paling banter menguasai apa yang disebut Melajoe Pasar, supaya bisa menyuruh-nyuruh bedienden (pembantu) Indonesia dan berbelanja pada pedagang kelontong Indonesia atau Tionghoa. Karena bahasanya lebih baik, maka ibu bisa membantu banyak perempuan untuk menulis kartu pos dengan 25 kata bahasa Indonesia yang boleh dilakukan dua kali setahun untuk dikirim ke kamp pria.

 

Soekarno dan Hatta

Sebagaimana sekarang sudah diketahui umum, dua hari setelah Jepang menyerah, pada tanggal 17 Agustus 1945, rakyat Indonesia menyatakan merdeka dari Belanda. Yang melakukan adalah dua pemuka mereka yaitu Soekarno dan Hatta. Tetapi seperti kami tidak mendengar bahwa Jepang sudah bertekuk lutut, tidak pula kami dengar sedikitpun tentang Proklamasi ini.

Buku harian ibu kami berlanjut:

22 Agustus 1945
Mendadak sontak tidak ada lagi apel pagi. Kami tidak perlu lagi menunduk. Serasa seperti mimpi.

24 Agustus 1945
Malam hari kami dipanggil untuk berkumpul di pendopo, seluruh penghuni kamp. Tenno Heika yaitu kaisar Jepang begitu bermurah hati: untuk menghindari berlanjutnya pertumpahan darah, dia menghentikan perang. Penempatan di dalam kamp tidak selalu seperti yang dikehendakinya, tapi […..] Kami terus mendengar sampai selesai, pidato panjang, dengan diam kami kembali ke bangsal. Kami dengar bahwa untuk sementara masih harus berada dalam kamp. Komandan ingin mengibarkan bendera Belanda, tapi tidak boleh. “Rakyat tidak bisa dipercaya,” begitu alasannya. Semakin diam, semakin baik. Inikah perdamaian itu? Di mana pula pria-pria kami? Masih hidupkah mereka?

30 Agustus 1945
Akhirnya datang juga berita dari Palang Merah. Syukurlah, Wim, suamiku dan ayah anak-anakku, hidup! Tapi suami Ans tewas, begitu pula suami Mia, begitu juga suami Judith. Oh, betapa mengejutkan semua ini […] bagaimana kami bisa bespesta? Dan kami harus tetap berada dalam kamp. Di bawah perlindungan orang-orang Jepang, tiba-tiba mereka berubah dari musuh menjadi pelindung dan teman.

31 Agustus 1945
Pada koran berbahasa Melajoe yang akhirnya masuk juga, kami baca bahwa Soekarno dan Hatta pada tanggal 17 Agustus telah menyerukan sebuah Republik Indonesia. Sebagian besar kami marah atau menertawakan “hal yang menggelikan” ini. “Nanti pasti kaum pria kita akan cepat mengakhirinya,” kata mereka. Itulah suara lewat pengeras suara pada malam hari tanggal 17 Agustus itu! Itulah pesta kaum inlanders, yang tidak kami perhatikan!

 

Peristiwa bersejarah

Pada jam 10 pagi tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta bersama sekelompok pendukungnya berdiri di depan halaman depan rumah Soekarno. Di situ berdiri tegak tiang bambu untuk mengibarkan bendera merah putih —simbul kemerdekaan yang terlarang— yang semalam sebelumnya cepat-cepat dijahit. Soekarno membacakan, dengan Hatta di sampingnya, sebuah pernyataan singkat yang tertera pada secarik kertas. Kertas itu tetap tersimpan, begitu pula foto yang dulu dibuat.

Menjadi awas atas dekatnya Jalan Proklamasi dengan lokasi kamp ADEK, adik saya Hugo mencari atlas kamp-kamp Jepang, berjudul Geïllustreerde Atlas van de Japanse Kampen in Nederlands Indië, 1942-1945. Kamp ADEK terletak antara Sluisweg dan Van der Houtlaan, sekarang Jalan Tambak dan Jalan Bonang. Bersama keluarganya dia bertandang ke sana, dan di seberang Jalan Bonang mereka mendapati Taman Proklamasi dengan banyak tanda peringatan.

Rumah Soekarno yang sementara itu sudah tidak ada lagi terletak di tengah Taman Proklamasi, jadi tidak jauh dari pagar kamp ADEK, tempat kami dulu disekap. Memang tidak bisa tidak gaduh dari pengeras suara yang didengar ibu berkaitan dengan peristiwa bersejarah ini. Tapi apa persisnya yang waktu itu didengarnya?

Soekarno dan Hatta termasuk segelintir warga Hindia Belanda yang memperoleh kesempatan untuk menjalani pendidikan universitas. Soekarno (1901-1970) adalah insinyur Technische Hogeschool (Sekolah Tinggi Teknik, sekarang ITB) Bandoeng dan Mohamad Hatta (1902-1980) menempuh pendidikan tinggi ekonomi pada Handelshogeschool (sekolah tinggi perdagangan) di Rotterdam. Keduanya harus membayar perjuangan kemerdekaan yang mereka lakukan dengan hukuman penjara selama bertahun-tahun dan pembuangan yang dilakukan oleh penguasa kolonial — cara ampuh untuk menyingkirkan orang-orang yang mereka anggap merupakan halangan, persis seperti yang kami alami.

Soekarno ditangkap pada bulan Desember 1929 karena gagasan nasionalistis radikal yang dianggap memusuhi negara dan pada tanggal 28 Agustus 1930 harus tampil di depan apa yang disebut Landraad. Itu saja sudah merupakan penghinaan karena pelbagai Landraden (bentuk jamak) yang tersebar di mana-mana bertujuan untuk, berbeda dengan pengadilan yang ditujukan khusus untuk orang Eropa, mengadili orang-orang Indonesia yang waktu itu disebut Inlanders. Dibandingkan dengan pengadilan biasa, Landraad ini memberi jauh lebih sedikit jaminan keadilan. Terkurung di dalam sel, Soekarno menulis pembelaannya yang berjudul Indonesia Menggoegat, yang dibacakannya pada akhir proses.

Toean­-toean Hakim, sekarang Toean­-toeanlah jang akan mengangkat kata […] Kami menoenggoe Toean-­toean poenja poetoesan itoe, jang tentoe tak loepa mempertimbangkan segala apa jang kami oeraikan tadi. [….] Kami oleh karenanja, memang mengharap dan menoenggoe poetoesan bebas.

Tetapi, djikalau seandai­nja Toean-­toean Hakim toh memandang kami bersalah, djikalau seandainja Toean-­toean Hakim toh mendjatoehkan hoekoeman, djikalau seandainja kami­ orang toh haroes menderita lagi kesengsaraan ­pendjara, wahai apa boleh boewat, moga­-moga pergerakan seolah-­olah mendapat wahjoe ­baroe dan tenaga ­baroe oleh karenanja, moga-­moga Iboe ­Indonesia soeka menerima nasib kami itoe sebagai korbanan jang kami persembahkan di atas hari­baannja, moga-­moga Iboe­ Indonesia soeka menerimanja sebagai boenga-boenga jang haroem dan tjantik jang biar dipakai menghiasi sanggoel ­kondenja jang manis itoe. Memang rohani kami tak adalah merasa masjgoel, rohani kami adalah berkata, bahwa segala apa jang kami tindakkan itoe adalah hanja kami ­poenja koewadjiban, − kami ­poenja plicht.

Tiga ratoes tahoen, ja walau seriboe tahoenpoen, tidaklah bisa menghilangkan haknja negeri Indonesia dan ra’jat Indonesia atas kemerdekaan itu. Oentoek laksananja hak ini maka kami ridho menderitakan segala kepahitan jang ditoentoetkan oleh tanah ­air itoe, ridho menandang kesengsaraan jang dipintakan oleh Iboe ­Indonesia itoe setiap waktoe.

Poetoesan Toean-toean Hakim atas oesaha kami ­orang, adalah poetoesan atas oesaha ra’jat Indonesia sendiri, atas oesaha Iboe ­Indonesia sendiri. Poetoesan ­bebas, ra’jat Indonesia akan bersjoekoer, poetoesan tidak ­bebas, ra’jat Indonesia akan tafakoer. [….] Maka kami siap ­bersedia mendengarkan poetoesan Toean-­toean Hakim!

Vonis itu keluar pada tanggal 21 Desember 1930: empat tahun hukuman penjara, dua tahun masih harus dijalani oleh Soekarno. Tapi pada 1933 kembali kebebasan Soekarno dirampas dan kali ini tanpa proses pengadilan, pertama-tama diasingkan ke Flores, kemudian ke Sumatra Barat, pada 1942 dia dibebaskan. Mohamad Hatta juga menulis buku yang dibaca siapa saja: Indonesia Merdeka. Mulai 1934 dia disekap dalam kamp konsentrasi Boven Digoel, di Papua, yang dengan sengaja didirikan di tengah-tengah hutan belantara penuh nyamuk malaria sehingga sulit dimasuki. Setelah itu, sampai 1940, Hatta diasingkan ke pulau Banda yang terpencil.

 

Perkembangan pemikiran orang tua

Pada tahun 1930an, orang tua kami berangkat ke Hindia karena alasan ekonomi. Krisis ekonomi yang melanda Belanda menjadikan koloni sebagai sedikit wilayah yang masih memungkinkan bagi kaum muda yang baru tamat pendidikan tinggi untuk memperoleh pekerjaan. Semula mereka menganggap kolonialisme sebagai sesuatu yang biasa saja, seperti bisa dibaca dari buku harian dan memoir mereka. Walaupun tergabung dalam kalangan progresif Belanda, misalnya pada 1929 keduanya tampil dalam pagelaran musik dalam pesta emas Aletta Jacobs (dokter perempuan pertama Belanda), tetapi di kalangan inipun orang masih percaya pada masuk akalnya kekuasaan kulit putih atas kalangan kulit berwarna. Meragukan sesuatu yang dianggap logis ini sudah merupakan sesuatu yang terlalu jauh.

Sebagai pendatang baru yang tak berpengalaman, di dalam kapal yang membawa mereka ke Hindia, orang tua kami dengan mudah menjadi korban indoktrinasi kalangan yang kembali ke Hindia dari verlof (cuti) di Belanda. Orang-orang ini berkata bahwa kebanyakan pembantu Indonesia suka mencuri dan perlu untuk menjaga jarak dengan warga setempat. Ketika tiba di Tandjong Priok, disambut oleh seorang paman yang menikah dengan seorang Indo (berdarah campur), ibu memergoki dirinya sendiri sempat berharap bahwa teman-teman baru sekapal mereka tidak melihat bahwa mereka disambut oleh kalangan tidak sepenuhnya berkulit putih….

Sudah pada penempatan pertama di Sumatra Selatan, sikap terbuka mereka terhadap orang Indonesia dan kalangan Indo menyebabkan bentrokan yang menyakitkan dengan tembok ras, sementara keraguan mereka makin meningkat. Ayah bekerja pada Landraad yang mengadili orang Indonesia. Kegelisahannya yang terus bertambah tentang perbedaan di antara pelbagai Landraden (bentuk jamak) dan pengadilan yang mengadili orang Eropa, dibicarakannya dengan ibu. Mata mereka makin terbuka tatkala ayah pada 1936 diangkat menjadi gurubesar Rechtshogeschool (sekolah tinggi hukum, cikal bakal Fakultas Hukum Universitas Indonesia) di Batavia. Mereka berhubungan akrab dengan kalangan cendekiawan Indonesia yang bersimpati pada gerakan kemerdekaan — disebut kalangan nasionalis. Sekali dalam dua minggu kedua orang tua kami menerima belasan mahasiswa Indonesia, dan kepada ibu ayah berkata, “Hampir semua mahasiswa yang pandai adalah nasionalis”.

Ketika pada 1942, akibat pendudukan Jepang, selama tidak setengah tahun kedua orang tua kami hidup terpisah, mereka sudah begitu jauh dalam mendukung kemerdekaan Indonesia. Pada tahun-tahun menjelang itu, perkembangan di wilayah koloni mengalami percepatan. Penyerbuan Jerman terhadap Belanda membawa rasa putus asa dan pada saat yang sama kerinduan bagi persatuan, juga dengan mereka yang dianggap “lain”, bahkan di kalangan kolonialis yang paling fanatik sekalipun. Demikian pula kalangan nasionalis Indonesia —sepanjang mereka bebas, karena banyak juga yang dipenjara atau diasingkan—hasrat ingin bebas itu menyebar dan mereka juga bersedia untuk bekerjasama.

Ibu saya menjadi anggota Klub “Hutspot”, kelompok perempuan yang menyelenggarakan makan bersama untuk meruntuhkan tembok ras. Pengurus terdiri dari tiga “ras” yang terwakili dengan berimbang: orang Indonesia, Tionghoa dan Eropa dan selama bersantap mereka harus bercampur baur, tidak lagi terkelompok dalam ras. Semula perempuan Eropa menganggap sudah semestinya makan malam bersama itu dipimpin oleh seorang perempuan Belanda, tetapi ketika “kalangan Timur” meminta supaya pimpinan digilir, akhirnya perempuan Eropa setuju juga.

Ayah menjadi anggota sebuah komisi, bernama Komisi Visman yang terdiri dari tiga orang Belanda, tiga orang Indonesia dan seorang Tionghoa dengan tugas merancang pembaharuan tata negara untuk masa depan. Sebenarnya pekerjaan mereka tidak lebih dari menginventariskan kehendak yang berkembang di kalangan pelbagai kelompok etnis — tidak ada reformasi yang mengarah pada kemerdekaan. Walau begitu, sebelum setuju membentuk komisi, dalam tubuh pemerintah sempat terjadi bentrokan, akhirnya mereka setuju hanya karena khawatir kalau komisi tidak segera dibentuk maka kesediaan kalangan nasionalis Indonesia untuk bekerjasama akan menguap.

Laporan akhir Komisi Visman berisi inventarisasi kehendak yang berkembang di kalangan pelbagai kelompok etnis bagi masa depan Indonesia? Apakah itu semua kehendak? Tidak, karena keinginan “Hindia lepas dari Holland” tidak masuk dalam laporan. Karena itu sudah sejak 1946 ayah menyesali telah membubuhkan tanda tangan pada laporan akhir yang antara lain tertera: “Anggota orang Indonesia bisa dikenalikan, kalau tidak pasti mereka tidak masuk sebagai anggota komisi. Satu per satu adalah orang-orang yang ahli. Tapi tidak seorangpun yang berpendirian tajam. Ini mereka pelajari dari birokrasi kolonial.” Ia berlanjut: “Sebagai pengkritik pada tahun 1946 ini saya dengan malu mengakui kesalahan menandatangani laporan akhir itu”. Demikian tulis ayah dari brosur berjudul “Nederland op den Tweesprong, tragedie van den aan traditie gebonden mensch”.

Perubahan pemikiran kedua orang tua kami terjadi, demikian selalu mereka tekankan, akibat pengalaman mereka sendiri terhadap penghinaan, rasisme, ketidakadilan dan kelaparan di dalam kamp interiran Jepang. Mereka tidak ingin melakukan itu semua terhadap orang lain. Selain itu, pengalaman hidup dalam kamp interniran Jepang mempertajam pemikiran mereka. Itu bermula dengan banyaknya pembicaraan yang mereka lakukan dengan sesama tahanan yang berpikiran serupa tentang masa depan wilayah jajahan. Tidak boleh dilupakan juga banyak buku menarik yang mereka baca, buku-buku itu dibawa masuk kamp oleh para tahanan dan begitu selesai membaca satu buku, mereka saling menukar dengan buku lain. Di antara sesama tahanan di kamp, ayah terutama terpengaruh oleh pemikiran tokoh sosialis Bernard van Tijn dan Jaap de Haas, keduanya mendukung kemerdekaan Indonesia. Bernard van Tijn dikenalnya sebagai sekretaris Komisi Visman dan Jaap de Haas yang adalah dokter anak-anak telah berbuat banyak bagi pelayanan kesehatan di Hindia. Ayah juga melakukan pembicaraan dengan Jacques de Kadt yang waktu itu masih beraliran kiri. Dia yakin bahwa seusai perang Indonesia harus merdeka. Waktu itu ayah masih meragukan kemampuan orang-orang Indonesia memerintah negeri sendiri. De Kadt menyingkirkan keraguan ayah dengan pendapat, “Ah mungkin saja mereka memerintah tidak begitu baik, tapi apa salahnya? Di Amerika Selatan ada banyak republik yang tidak begitu beres — tapi mereka semua negara-negara merdeka”.

Ketika bertahun-tahun kemudian orang tua kembali bertemu sobat lama itu, mereka hanya berkata bagaimana bisa sampai pada kesimpulan bahwa rakyat Indonesia berhak untuk mencapai kemerdekaan apapun bentuknya. Tapi pada 17 Agustus 1945 itu semua itu masih terlihat begitu jauh, karena waktu itu mereka masih terkurung dan jauh terpisah satu dari yang lain.

Sekarang tatkala kami tahu bahwa kamp ADEK berada dekat dengan titik proklamasi kemerdekaan, akan menarik untuk mengetahui di mana persisnya ibu mendengar suara-suara pesta yang masuk ke dalam kamp interniran itu. Bangsal tidur kami berada di samping bangsal sakit, ruang besar kosong dengan kasur di atas tanah. Beberapa kali ibu dirawat dalam bangsal ini, karena sakit. Di sebelah bangsal ada lapangan tempat mereka yang sakit dan sudah membaik duduk di kursi untuk menerima kerabat yang datang membezuk. Lapangan ini dekat dengan pagar, itulah yang paling dekat dengan dan di situlah rumah Soekarno pernah berada, seperti ditemukan oleh adik saya! Dengan berdiri di lapangan ini, pasti malam itu dia mendengar suara-suara pesta. Di wilayah tropis gelap turun mulai jam tujuh malam, dan karena hampir tidak ada cahaya, maka kemungkinan besar dia berupaya berada sedekat mungkin dengan bangsal kami.

 

Bukan rekayasa Jepang

Tinggal menjawab pertanyaan bunyi-bunyi apa yang waktu itu terdengar lewat pengeras suara. Untuk itu harus dilihat bagaimana berita tentang Proklamasi menyebar.

Dalam mingguan de Groene Amsterdammer edisi 16 Agustus 1995, sejarawan Lambert Giebels menulis: “Sekarang sudah diketahui umum bahwa Proklamasi kemerdekaan yang berlangsung begitu sederhana itu membawa dampak yang luar biasa di Indonesia. Berita mengenainya disebarluaskan pada hari itu juga oleh orang Indonesia yang bekerja pada kantor berita Domei dalam siaran radio ke segenap penjuru Nusantara. Pada banyak kota berita ini menyebabkan orang bersorak sorai dan berpesta pora.”

Karena itu bisa jadi memang telah berlangsung pesta. Ibu menulis Dan selalu terdengar suara keras melalui pengeras suara. Adakah itu suara yang memperingatkan mereka yang berpesta supaya tenang? Beberapa hari setelah bertekuk lutut, orang-orang Jepang masih harus menjaga keamanan. Bahwa ibu berupaya memahami apa yang terdengar berarti suara-suara itu dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa Jepang, karena dia tidak paham bahasa Jepang. Tapi mengapa ibu kesulitan memahaminya? Di sini tampaknya lebih masuk akal untuk menganggap bahwa bukan orang Indonesia yang berbicara. Walau begitu kalaupun suara itu dalam bahasa Indonesia, bisa jadi yang mengucapkan adalah orang Jepang, karena memang ada orang Jepang yang fasih bahasa Indonesia.

Sementara itu juga sudah banyak terungkap bagaimana naskah Proklamasi ditulis, begitu pula pembacaannya. Ketika Jepang menyerah pada tanggal 15 Agustus 1945, sesuatu yang tidak diduga-duga oleh banyak orang, muncullah situasi kacau. Sekutu memerintahkan Jepang supaya menjaga status quo, sebelum mereka tiba di kepulauan Nusantara. Itu berarti bahwa tentara pendudukan Jepang tidak boleh mendukung Indonesia merdeka, atau meremehkan kembali pulihnya kekuasaan Belanda. Dan sejauh ada beberapa “oknum” tentara Jepang yang mendukung para pejuang kemerdekaan Indonesia, maka itu pasti terjadi secara sembunyi-sembunyi. Pihak Belanda selalu berupaya memperbesar pengaruh Jepang (dengan begitu memperkecil peran Indonesia) untuk membangkitkan ilusi bahwa rakyat Indonesia sebenarnya tidak ingin mengusir Belanda.

Sementara itu, bisa dipastikan bahwa beberapa hari menjelang Proklamasi seorang opsir marinir Jepang telah berperan sebagai penengah dalam dua perkara. Di satu pihak antara pejuang kemerdekaan Indonesia dengan runtuhnya kekuasaan Jepang yang masih bisa mengancam akan menggunakan kekerasan yang selama bertahun-tahun sudah mereka lakukan untuk menteror orang Indonesia. Di lain pihak, di kalangan gerakan kemerdekaan sendiri yang memiliki pendirian berbeda-beda tentang isi teks proklamasi dan kapan itu harus diucapkan. Bahkan pada suatu saat, Soekarno, istrinya dan anaknya yang baru lahir serta Hatta sempat diculik selama sehari semalam oleh para pemuda yang berpendapat bahwa mereka tidak cepat-cepat bertindak.

Pertengahan September 1945 ayah membicarakan situasi politik ini dengan seorang sahabat baiknya.

Orang-orang Belanda benar-benar yakin bahwa Republik Indonesia tidak lebih dari rekayasa Jepang untuk menghalangi sekutu, khususnya kita orang Belanda. Tapi kami berdua yakin bahwa situasi sekarang jauh lebih rumit lagi. Mulai tanggal 15 Agustus, hari kapitulasi, orang Jepang wajib menjaga status quo, dan secara resmi mereka juga melakukannya. Milisi sukarelawan Indonesia Peta sudah mereka bubarkan menjelang kapitulasi, mereka wajib menyerahkan senjata.

Atas desakan para pemuda nasionalis, beberapa hari setelah kapitulasi Jepang, Soekarno dan Hatta memproklamasikan Republik Indonesia untuk menghindari kesan republik ini cuma rekayasa Jepang di hadapan sekutu. Memang ada beberapa petinggi militer Jepang yang, karena bersimpati pada cita-cita kemerdekaan Indonesia, secara klandestin mendukung proklamasi —tapi dengan begitu tidaklah berarti bahwa Republik baru ini cuma rekayasa Jepang.

 

Grafiti antikolonial

Sementara kami harus tetap berada di dalam kamp interniran, sudah sejak 30 Agustus 1945 ayah bersama seorang temannya melarikan diri dari kamp mereka di Bandoeng dan dengan kereta api mereka sampai di Batavia. Dengan wajah berseri-seri di kemudian hari ia bertutur bahwa itu hanya mungkin mereka lakukan karena situasi begitu kacau, mereka datang ke pintu gerbang dan melangkah keluar, sementara penjaga orang Jepang hanya melihat. Bersama-sama mereka mendirikan Palang Merah Batavia dan segera bekerja keras. Tentu saja dia langsung tahu di kamp mana kami berada, melalui surat dan pembicaraan telpon dengan pemimpin kamp dia bisa berhubungan dengan kami, tapi sia-sia bisa masuk kamp ADEK.

Berharap ayah kembali akan mencoba masuk kamp, pada sore tanggal 9 September 1945 saya berdiri di luar pintu gerbang —tapi tidak lepas dari pengawasan penjaga— mengamati bagaimana orang melipat parasut raksasa. Dengan parasut ini dijatuhkan paket makanan di lapangan tempat kami melakukan apel. Tiba-tiba terlihat ayah datang naik sepeda butut, karena terdengar suara pedal. Ia mengenakan celana pendek, kaos oblong dan sandal di kaki, dan kami segera mengenali satu sama lain. Kami berbicara sebentar, kemudian dia ingin menemui ibu, Marijke dan Hugo, dan begitu berkumpul kami lama berdiri di depan pintu gerbang.

Kali ini dia diizinkan masuk dan bahkan kami diizinkan secara bergiliran menginap bersamanya, di rumah seorang kenalan Tionghoa yang begitu ramah meminjamkan pavilyunnya. Pada saat itu keluar dari kamp dan berjalan-jalan di luar sudah merupakan hal biasa. Suatu ketika bahkan kami bersama ibu mencari Kawi, sopir kami dari masa sebelum perang, di kampung terdekat. Kami sudah pernah mendatangi rumahnya yang berdinding anyaman bambu, ketika menghadiri pernikahan anaknya. Pengantin yang berdandan molek duduk di pelaminan yang terbuat dari bambu, Marijke dan saya diizinkan untuk mengipasi mereka, menghembuskan angin sejuk. Tapi kali ini Kawi tidak di rumah, dan dari orang-orang yang ada di sana kami mendapat kesan tidak usah datang lagi — bagi kami isyarat pertama bahwa orang Indonesia menghindari kontak dengan orang Belanda.

Tak lama kemudian ayah memperoleh rumah sementara untuk kami semua di Javaweg. Rumah kami sendiri dijarah sampai kosong, bahkan kabel listrikpun lenyap. Sementara itu berhasil dijalin kontak dengan famili di Holland, yang tentu saja sangat gembira kami bertahan hidup setelah perang.

Tentang kesan-kesan pertamanya di Batavia, ayah menulis sebagai berikut:

Dalam tiga setengah tahun aku ditahan, raut wajah Batavia sudah berubah. Tapi pada minggu-minggu pertama September yang paling menonjol adalah tulisan-tulisan anti kolonial, dicoret-coret pada tembok dan tram, kebanyakan dalam bahasa Inggris. Jelas tulisan-tulisan ini bertujuan untuk, ketika pasukan sekutu tiba, menegaskan kepada mereka bahwa pemulihan kekuasaan kolonial tidak diinginkan oleh rakyat Indonesia.

 

Soetan Sjahrir

Orang Indonesia berpesta pora menyambut berita Proklamasi 17 Agustus 1945. Bagaimana reaksi terhadap hal ini di Belanda? Baru sebulan kemudian, pada 17 September 1945, koran Algemeen Handelsblad menerbitkan artikel berjudul “Chaostische toestand op Java” (Jawa dilanda kacau balau), di dalamnya bisa dibaca laporan seorang koresponden kantor berita United Press:

Situasi politik sangat membingungkan, setelah pemimpin nasionalis Soekarno pada tanggal 17 Agustus lalu memproklamasikan ‘Republik Indonesia’. Walaupun Soekarno, ketika saya wawancara, tegas-tegas menolak bahwa otoritas Jepang telah mendukung kudeta yang dilancarkannya, ada petunjuk-petunjuk bahwa tengah terjadi sesuatu di balik layar. Setelah berkapitulasi, dalam rangka menyelamatkan diri, Jepang menjanjikan kemerdekaan kepada para inlanders mulai tanggal 7 September.

Selanjutnya di dalam artikel juga tertera “mereka yang menyebut diri nasionalis dengan Soekarno sebagai pemimpin dan ‘presiden republik’ dan seseorang yang bernama Matta Hatta sebagai wakil presiden”.

Tanda petik, nada berita dan salah cetak nama Mohamad Hatta mercerminkan perasaan antipati sebagian besar orang Belanda pada saat itu. Hal yang sama dialami ayah ketika membaca sikap pejabat pemerintah yang diterimanya dari Belanda. Pada bulan-bulan kemudian, dalam kapasitasnya sebagai sekretaris Palang Merah, ia mencoba menengahi mereka dengan kalangan cendekiawan nasionalis yang dikenalnya. Semula ini terjadi di dalam gedung Palang Merah. Tapi pada bulan November 1945 hubungan antara orang Belanda dengan orang Indonesia menjadi lebih sulit. Kalangan extrimis muda, tapi juga gerombolan pencuri yang sama sekali tidak berkaitan dengan perjuangan kemerdekaan, melancarkan pembunuhan terhadap orang Belanda, antara lain beberapa sahabat akrab orang tua kami. Karena itu diputuskan untuk mengubah kamar tamu rumah kami di Javaweg menjadi kantor Palang Merah.

Bagi orang-orang Belanda pertanyaannya adalah seberapa jauh tokoh-tokoh nasionalis yang sibuk mengisi kemerdekaan itu bekerjasama dengan orang-orang Jepang. Selain Soekarno yang memang bekerjasama dengan Jepang dan Hatta yang sedikit melakukannya, masih ada tokoh nasionalis ketiga yang benar-benar menolak bekerjasama: Soetan Sjahrir.

Sebagai cendekiawan yang non-kooperatif, Sjahrir memperoleh banyak dukungan generasi muda. Pendirian anti-fasisnya menyebabkan Sjahrir merupakan satu-satunya mitra berunding dari kalangan nasionalis yang masih bisa diterima Belanda. Dia juga sempat menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Leiden, karena itu dia akrab dengan beberapa tokoh sosialis seperti Jef Last, Sal Tas dan Jacques de Kadt yang anti Partai Buruh Sosial Demokrat SDAP. Bagi mereka partai ini dipenuhi oleh “kalangan munafik yang suka minum champagne”. Selama di Belanda Sjahrir menjalin hubungan asmara dengan Maria, istri Sal Tas. Maria ikut bersama Sjahrir kembali ke Hindia Belanda dan kedua kekasih menikah secara Islam. Bergandengan tangan pasangan pengantin baru ini berjalan-jalan di Medan, mengenakan pakaian tradisional. Ternyata hal ini sudah keterlaluan bagi orang Belanda kulit putih, setelah lima pekan Maria dimasukkan dalam kapal yang membawanya kembali ke Belanda. Pasangan ini baru bertemu kembali setelah Perang Dunia Kedua berakhir.

Tak lama sesudah itu, lantaran pidato-pidatonya yang nasionalistis Sjahrir dibuang ke kamp penjara Boven Digoel di Papua, dan sesudah itu selama bertahun-tahun ke pulau Banda yang terpencil itu. Dari sana ia mengirim surat-surat panjang berbahasa sastra kepada Maria. Dalam sebuah surat tertanggal 21 Februari 1936, Sjahrir membeberkan pandangan majunya:

Tentang satu hal aku jakin: bahwa pemerintahan djadjahan ini, dan lebih2 lagi orang2 Belanda pendjadjah, satu waktu akan menjesal, bahwa mereka itu tidak melakukan politik dengan garis2 besar, dengan kemungkinan2 jang djauh, disesuaikan dengan susunan dunia modern jang sudah berubah, bahwa mereka itu tidak pernah, walaupun hanja sedikit, teringat akan politik kebudajaan jang insaf untuk penduduk Indonesia. Aku sendiri jakin bahwa kepitjikan pandangan ini, “ketelitian” Belanda jang terkenal itu dan kekurangan fantasi dan keberaniannja dari mulai sekarang akan memperlihatkan akibat2nja jang buruk. [….] Tapi achir2nja mereka akan terpaksa mengambil djalan itu, tapi tentu sudah terlambat pula. Sebagai orang jang diasingkan aku hanja bisa mengatakan: akan kita lihat buktinja nanti.

Sjahrir sendiri juga kritis terhadap gerakan kemerdekaan. Kalangan nasionalis murni, menurutnya, kurang “memiliki pikiran terbuka dan mereka juga harus membebaskan diri dari syak wasangka, kebencian dan kompleks rasa minder”. Baru sesudah itu bisa muncul keberimbangan. Dengan cepat Sjahrir juga melihat bangkitnya fasisme sebagai ancaman terbesar terhadap perdamaian dunia.

Pada sebuah surat terbuka tahun 1938, Sjahrir mencatat bahwa “begitu perang Pasifik berkobar, kalangan pergerakann harus bekerjasam untuk mempertahankan negara”. Untuk bisa menjalin kerjasama ini penguasa Belanda harus menyerahkan sebagian kekuasaan kepada kalangan pergerakan. Belanda harus memandang kalangan gerakan perlawanan sebagai sekutu yang berimbang.

 

Ketakacuhan pejabat Belanda

Beberapa hari menjelang 25 November 1945, ayah mengadakan pembicaraan dengan utusan pribadi Menteri Wilayah Seberang Lautan Belanda. Dalam berunding itu ayah mendesak supaya dilakukan perundingan dengan Soetan Sjahrir:

Aku jabarkan bahwa dengan tampilnya kabinet Sjahrir beberapa hari berselang maka muncullah kesempatan unik untuk mengadakan perundingan, dan bahwa Belanda harus menyambut kesempatan ini dengan dua tangan terbuka. [….] Kucoba meyakinkan bahwa mengakui republik menurut pendapatku tidak bisa dihindari lagi. Kudesak supaya sebelum kabinet Sjahrir Ahad 25 November mendatang berhadapan dengan lembaga perwakilan Republik, dia diberi konsesi sebanyak mungkin dalam bidang politik, hanya dengan begitu maka posisinya di hadapan teroris dan extrimis ini akan menjadi kuat. Ini memang tidak akan mudah, terutama karena hubungan pribadi antara orang-orang Belanda dengan orang-orang Indonesia pada bulan November ini sudah tidak mungkin lagi.

Ayah kemudian memperoleh tugas untuk mencoba membuka hubungan dengan Sjahrir, untuk menanyakan beberapa hal kepadanya:

Berhasil kusampaikan pesan untuk mengadakan perundingan dengan Sjahrir. Sabtu 24 November aku ditelpon istri: harus cepat-cepat pulang. Langsung kutahu apa yang terjadi. Ini jam paling panas, jalan-jalan sepi. Belum lagi kuletakkan tas, sudah datang mobil, masuk taman sampai di samping pintu. Sjahrir sendiri ternyata yang pegang kemudi. Kami masuk ke kamar kerjaku. Seorang negarawan, sekarang perdana menteri, ternyata sangat tertarik pada apa yang kukatakan. Tentu saja dia tidak bisa menjawab satu pertanyaankupun secara definitif tanpa terlebih dahulu berunding dengan kabinetnya. Tetapi reaksinya tidak langsung negatif, dan dia tidak secara apriori menampik kemungkinan mengadakan perundingan. Perundingan yang berlangsung lebih dari sejam ini juga menyinggung teror yang juga kualami dalam bekerja untuk Palang Merah. Sjahrir tampak terperanjat mendengar penuturanku — tak tahu menahu tentang hal ini dan begitu besar skalanya. [….]. Kontakku dengan Sjahrir, terutama baginya, bukannya tidak berbahaya. Pada 21 November terjadi upaya pembunuhan terhadap Mohamad Roem, bekas mahasiswaku dan sekarang pembantu Sjahrir, mungkin oleh anasir extrimis yang anti perundingan dengan Belanda; untung Roem selamat dari kematian.

Kakak, saya dan adik masih menyimpang kenangan nyata bagi kunjungan Sjahrir ini. Kami sedang bermain di halaman belakang, tatkala ibu dengan gugup menghambur keluar dan berbisik supaya kami diam. Seorang Indonesia akan datang berkunjung, dan karena tidak seorangpun boleh tahu, mobilnya akan diparkir di halaman belakang. Hari-hari sebelum itu turun hujan lebat sehingga tanah begitu becek dan kami bisa membangun kastil lumpur. Sebagai ksatria untuk kastil itu kami bermain batu dan melarikannya sambil berteriak-teriak.

Banyak rumah di Indonesia memiliki pavilyun di halaman belakang. Di dalamnya terdapat kamar untuk menyimpan pelbagai persediaan, para pembantu juga tidur di sana. Di bagian lain terdapat jalan, untuk rumah kami jalan itu di sebelah kanan. Sedangkan bagian belakang halaman itu berdiri tembok tinggi.

Terbengong-bengong kami duduk di atas lantai pavilyun dan bertanya-tanya akankah kastil lumpur kami selamat? Terbiasa oleh keadaan perang, kami selalu menyesuaikan kepentingan sendiri dengan bahaya yang muncul di sekitar, tapi bagaimanapun juga ini adalah permainan kami. Sebuah mobil hitam masuk melaju ke halaman belakang, membelok tajam ke kiri dan …. berhenti persis di hadapan kastil kami. Seorang pria Indonesia keluar dan dengan cepat dihantar masuk. Pelan-pelan kami tertawa bersama dan menanti sampai dia pergi.

Ayah berlanjut dalam buku hariannya:

Keesokan harinya, pagi-pagi, aku naik sepeda ke istana untuk melaporkan hasil pembicaraan. Dalam dua kata harus kusampaikan isi pembicaraan yang berlangsung sejam itu. Dengan sedikit tergagap permintaan itu kupenuhi, tapi aku sendiri sudah tidak begitu lagi percaya pada peranku ini.

Setelah mengalami sendiri betapa penguasa Belanda tidak begitu tertarik, ayah dengan kecewa memastikan bahwa tidak ada lagi perannya dalam melaksanakan politik yang dijalankan pemerintah Belanda: begitulah akhir missi politik yang pertama dan terakhirku.

Walau begitu kontak antara Sjahrir dan penguasa Belanda berhasil dibina, berlanjut dengan pembicaraan dan perundingan seret. Dalam brosur berjudul “Nederland op den Tweesprong” (Belanda di persimpangan), ayah berkeluh kesah sebagai berikut: “Dengan begitu pemerintah mempersulit Sjahrir untuk menjelaskan kepada kalangan oposisi bahwa bermanfaat juga untuk berunding dengan Belanda. Bisa-bisa ada kalangan tertentu pemerintah masih risi berhadapan dengan seorang sosialis seperti Sjahrir. Tidakkah orang sadar bahwa kalau Sjahrir tersingkir, maka tidak ada lagi yang tersisa dalam masyarakat Indonesia yang bisa diajak berunding dengan Belanda?”

 

Taman Proklamasi

Kembali di Belanda, kedua orang tua kami melanjutkan perjuangan supaya Belanda mengakui Republik Indonesia. Mereka terus berharap munculnya kerjasama antara kedua negara, yang menguntungkan Indonesia tapi juga menguntungkan Belanda. Akibatnya mereka kembali bertabrakan dengan pemerintah Belanda yang buta bagi hasrat sah Indonesia untuk merdeka dan hanya bersikukuh pada pendirian hampa mereka untuk kembali memulihkan Hindia Belanda sebagai wilayah jajahan.

Kami anak-anak ini menjadi saksi bagaimana ayah ibu begitu putus asa melihat betapa pemerintah Belanda telah menampik semua kesempatan bagi perpisahan yang bermartabat dengan wilayah jajahan serta peralihan damai menuju kemitraan yang sederajat. Tidak boleh dilupakan bagaimana pula penguasa yang begitu picik itu akhirnya melancarkan perang kolonial yang amat menyengsarakan, sampai dua kali!

Antara 1946 dan 1998 tidak seorangpun di antara kami, anak-anak, kembali menengok negeri kelahiran kami. Satu-satunya saat kedua orang tua kami kembali terjadi pada 1956/1957, mereka ke Bogor karena ayah memberi kuliah gurubesar tamu pada Fakulteit Pertanian Universiteit Indonesia. Tetapi sejauh yang kami ketahui, waktu itu mereka tidak mengunjungi tugu Proklamasi, dan karena itu juga tidak mendapati betapa dekat kamp ADEK dengan rumah Soekarno yang ditinggali setelah pembuangan selama bertahun-tahun. Waktu itu belum ada monumen dengan patung Soekarno dan Hatta dan 17 pilar (karena 17 Agustus). Begitu pula rumah Soekarno (Pegangsaan Timur 56) belum diganti menjadi bangunan besar putih yang sekarang memamerkan detik-detik Proklamasi.

Kenyataan bahwa tidak seorangpun di antara kami kembali ke Indonesia sebelum 1998, berkaitan erat dengan kudeta berdarah tahun 1965, ketika jenderal Soeharto dan kaki tangannya menegakkan pemerintahan diktator kejam yang selama lebih dari 30 tahun menguasai Indonesia — antara lain dengan selama bertahun-tahun mengasingkan ribuan orang (termasuk cendekiawan dan penulis) yang dicurigai bersimpati dengan kalangan komunis ke pulau Buru yang terpencil dan tak layak dihuni. Mereka berada di sana tanpa melalui proses apapun, juga tanpa mereka tahu untuk berapa lama. Kembali terlihat betapa penguasa menggunakan cara ampuh ini untuk menyekap orang-orang yang mereka anggap merpakan halangan. Kali ini adalah rezim Indonesia sendiri, dan pahitnya adalah bahwa pemerintah yang berkuasa di Belanda antara 1965 sampai 1998 tidak sedikit saja merasa risi berhubungan dengan rezim diktator Indonesia, bahkan sampai mengekspor senjata. Itu mereka lakukan tanpa terlebih dahulu mengakui 17 Agustus sebagai hari Proklamasi dan terus berpegang teguh pada 27 Desember 1949 sebagai hari penyerahan kedaulatan. Ketika para mahasiswa, pada 1998, memaksa Soeharto mundur, ayah sudah terlalu tua untuk bisa melakukan perjalanan panjang —dia tutup usia akhir 1998. Ibu sudah duluan, meninggal dunia pada 1988. Sejak 2002, kami anak-anak dalam kombinasi berbeda-beda dan bersama anak-anak kami sendiri serta cucu-cucu kembali ke Indonesia, dan akan terus kami lakukan. Tapi mulai sekarang kami akan selalu singgah di Taman Proklamasi, ikut mengenang apa-apa yang pernah terjadi di sini. (Alih bahasa: Joss Wibisono).

Referensi:

• Rudolf Mrázek (1994): Sjahrir: Politics and Exile in Indonesia
• Wim Wertheim dan Hetty Wertheim-Gijse Weenink (1991): Vier wendingen in ons bestaan, Indië verloren, Indonesië geboren.
• W. F. Wertheim (1946): Nederland op den Tweesprong: Tragedie van den aan traditie gebonden mensch.
• W.F. Wertheim (1978): Indonesië, van vorstenrijk tot neo-kolonie.
• Sutan Sjahrir (1966): Indonesische Overpeinzingen.
• Soekarno (1930): Indonesië klaagt aan.
• Anne-Ruth Wertheim (1994): De Gans eet het brood van de eenden op, mijn kindertijd in een Jappenkamp op Java.

Sumber: Historia.Id
2017-10-03T18:37:13+00:00 Oktober 3rd, 2017|Artikel|Komentar Dinonaktifkan pada Suara dari Masa Pancaroba