Jalan Pedang | *Dandhy Dwi Laksono

Home/Article/Opinion/Jalan Pedang | *Dandhy Dwi Laksono

Jalan Pedang | *Dandhy Dwi Laksono

“Komunisme mengajarkan untuk menentang kapitalisme, itu tercakup di dalam Islam. Saya menerangkan hal itu sebagai (seorang) muslim dan komunis,”

tulis Haji Misbach di koran “Soeara Moeslimin”1926.

________________

Dalam sejarah republik, yang disebut pemberontakan itu tak hanya dilakukan PKI. Ulama, tentara dan jenderal (ini yang paling banyak), serta kaum intelektual, semua pernah memberontak dengan alasan masing-masing.

Kekerasan juga bukan monopoli satu pihak. Kekejaman yang dilakukan pasukan DI/TII di tanah Pasundan, atau sentimen SARA yang mewarnai pemberontakan Qahhar Mudzakkar di Sulawesi, adalah sejarah yang sulit dibantah jika kita mau membuka diri terhadap berbagai sumber informasi.

Apalagi jika berbicara reputasi pasukan NKRI di daerah konflik seperti Aceh, Papua, Kalimantan di masa PGRS/Paraku, dan Timor Timur atas nama “keutuhan bangsa” dan Pancasila.

Tak ada yang hitam putih dalam sejarah NKRI. Sejarah bangsa ini bukan seperti dongeng antara yang jahat dan yang baik. Peri cantik melawan setan busuk. Atau antara yang alim melawan yang batil.

Tapi dari sekian banyak kisah, hanya cerita PKI yang dipelihara Orde Baru dan para pengikutnya hingga kini, sembari melakukan kekerasan demi kekerasan dari Priok, Talangsari, hingga menculik dan menembaki mahasiswa di Trisakti dan Semanggi untuk menghentikan reformasi.

Lalu dari sekian banyak ideologi atau gagasan yang melatarbelakangi konflik itu, hanya komunisme yang dilarang dibicarakan. Ia satu-satunya gagasan yang dianggap paling bengis.

Gagasan-gagasan dalam Islam yang menjadi salah satu dasar perjuangan Daud Beureueh atau Kartosuwiryo tak pernah dilarang, karena memang mustahil melarang-larang pemikiran dan gagasan seseorang. Seseorang hanya bisa dihukum karena tindakan dan kejahatannya. Bukan isi kepalanya.

Bahkan ketika teror demi teror bom meledak dari Bali hingga Sarinah dengan korban yang makin sulit dihitung, tak ada yang membuat Tap MPR untuk melarang “Islamisme”.

“Karena memang tindakan itu tidak mewakili Islam. Dan apakah seluruh orang Islam harus dipersalahkan?”

Betul. Dan memang seharusnya demikian. Tapi lantas standar kita berbeda ketika menyangkut komunisme. Kekerasan sebelum ’65 dan peristiwa 30 September yang notabene dilakukan pasukan Tjakrabirawa (sesama tentara), harus ditanggung oleh ratusan ribu korban dan anak cucunya. Bahkan hingga kini. Sampai ke simbol-simbol seperti “palu arit” atau lagu “Genjer-Genjer” yang tak ada sangkut pautnya.

Meski tak pernah mempelajari apa itu komunisme, kebencian pada komunis terus dipelihara sambil melakoni hidup di jalan kapitalisme yang penuh riba, meminggirkan, dan tak sedikit memakan korban.

Rata-rata orang hanya sanggup menjelaskan apa itu komunisme tak lebih dari tiga kata: kejam, pemberontak, dan ateis. Dua kata pertama jelas bukan monopoli komunis. Sedangkan satu kata terakhir, salah total.

“Komunisme mengajarkan untuk menentang kapitalisme, itu tercakup di dalam Islam. Saya menerangkan hal itu sebagai (seorang) muslim dan komunis,” tulis Haji Misbach di koran “Soeara Moeslimin”1926.

Kalau mau ditambahkan dalih “tapi hanya PKI yang membunuh ulama”, silakan tanya kepada orang Aceh siapa yang membantai Tengku Bantaqiah dan santri-santrinya di Beutong Ateuh, Juli 1999.

Di sisi lain, para jenderal yang anti-komunis, “Pancasilais”, dan dekat dengan ulama itu, duduk rapi di jajaran kursi komisaris perusahaan-perusahaan pertambangan dan perkebunan yang merusak hutan, mengeringkan mata air; dan memiskinkan warga sekitar.

Doktrin sejarah 30 tahun di masa Orde Baru seolah telah menjadi sel-sel hidup yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dan hanya perlu satu-dua provokator untuk mengaktifkan sel-sel itu di kepala setiap orang, terutama setiap menjelang peristiwa politik.

Tiga tahun kawan-kawan Watchdoc memfilmkan dan melakukan riset tentang sejarah pemberontakan di Indonesia. Kami mendatangi saksi-saksi sejarah yang terserak di tiga negara.

Serial dokumenter berdurasi masing-masing satu jam ini dikerjakan dengan standar jurnalistik yang ketat dan pernah ditayangkan di jam siaran utama (20.00 WIB) sebuah stasiun televisi tahun 2013-2014 lalu. Lagu “Genjer-Genjer” kami pasang sebagai backsound tanpa ragu. Sebab kami ingin meretas semua tabu.

Semua pihak berbicara dan diwawancarai.

Karena hak tayangnya bukan lagi di kami, kami tak dapat mengunggahnya di Youtube seperti karya-karya Watchdoc yang lain. Meski, kami sangat ingin memberi kontribusi tontonan kepada masyarakat agar bangsa ini tidak terus menerus mudah dimanipulasi dan ditumbalkan.

***

This post is also available in: Indonesian

2017-09-28T02:23:57+01:00 September 28th, 2017|Categories: Opinion|Tags: , , |Comments Off on Jalan Pedang | *Dandhy Dwi Laksono